BaRu (Bajang Badrul, Memahami Seutuhnya Nilai Toleransi-Harmoni Kebersamaan-Jamin

BaRu (Bajang Badrul, Memahami Seutuhnya Nilai Toleransi-Harmoni Kebersamaan-Jamin


Home


FAKTOR POLITIK UANG DALAM PILKADA
Posted by Administrator (admin) on Apr 23 2008 at 12:24 PM
Home >>

Oleh Rosiady Sayuti

Sudah menjadi rahasia umum bahwa dalam setiap Pilkada, masalah uang ataupun politik uang menjadi salah satu magnet yang sangat menarik. Mulai dari uang untuk ‘membeli’ kendaraan politik yang akan mengusung seseorang menjadi bakal calon, uang saku untuk tim sukses, sampai pada uang untuk mengiming imingi pemilih agar tergiur memilih calon yang bersangkutan. Para calon berasumsi dan tentunya meyakini bahwa dengan uang yang dimilikinya, mereka akan dapat membeli hati pemilih. Dengan uang yang dimilikinya, wallahu alam dari mana sumbernya, halal atau haram, mereka akan dapat menarik simpati massa pemilih. 

Pertanyaanya adalah apakah memang benar demikian? Apakah rakyat kita di tanah air ini sudah sedemikian rendah harganya, sehingga hanya dengan amplop yang berisikan 20 ribu atau 50 ribu atau bahkan 100 ribu mereka akan menggadaikan nasibnya kepada para pembayar kekuasaan, yang belum tentu sesuai dengan harapan masyarakat itu sendiri? Bukankah dalam Pilkada lima tahunan seperti ini, apabila salah memilih gubernur atau walikota atau bupati, daerah itu akan ketinggalan minimal sepuluh tahun? Mengapa sepuluh tahun, bukan lima tahun sesuai dengan masa jabatan yang bersangkutan? Ya sepuluh tahun, karena orang yang tidak tepat apalagi memang orang yang orientasinya hanya untuk materi, bukan untuk membangun masyarakat, maka masyarakat di daerah kabupaten atau propinsi itu tidak saja rugi lima tahun, sebagaimana masa jabatan yang bersangkutan, tapi juga akan ditambah rugi lima tahun lagi karena ada orang yang sesungguhnya mampu membawa lompatan besar dalam membangun daerahnya tidak mendapat kesempatan. Sementara daerah lain yang tepat dalam memilih pemimpin akan meninggalkan daerah yang salah memilih pemimpin itu lima tahun. Itulah sebabnya menurut saya, suatu daerah akan rugi minimal sepuluh tahun.

Tapi baiklah, itu hanya hitungan matematik. Sekarang pertanyaannya kembali kepada benarkah faktor uang sangat menentukan dalam mengarahkan suara pemilih? Dr. Denny JA, Direktur Lingkaran Survey Indonesia, kawan saya satu kampus ketika di Ohio State University ketika sama-sama menempuh program doktor, dalam presentasinya di depan kader PBB dan PKS di Lombok Raya beberapa waktu yang mengatakan bahwa faktor uang sebenarnya hanyalah salah satu saja dari faktor yang dapat memenangkan seseorang dalam suatu pilkada. Faktor utamanya adalah faktor figur. Dalam penelitian yang telah dilakukan oleh LSI di berbagai daerah kabupaten/kota maupun propinsi disimpulkan bahwa faktor partai pendukung pun tidak memiliki korelasi yang signifikan dalam mempengaruhi suara pemilih. “hampir tidak ada korelasinya.” Kata Denny JA. 

Dicontohkan bagaimana partai-partai besar di negeri ini tidak mampu memenangkan pilpres beberapa waktu yang lalu. Demikian pula di berbagai daerah, mesin-mesin politik partai besar tidak mampu memenangkan pilkada; hanya karena figur yang diusung ’tidak laku’ di masyarakat.  Dan kalau sudah ’tidak laku’ maka uangpun tidak akan dapat mempengaruhi suara pemilih.

Di NTB sendiri, kita sudah berpengalaman dalam pilkada kabupaten Sumbawa, Sumbawa Barat, Dompu, Kota Bima, Kabupaten Bima, dan Lombok Tengah, serta Kota Mataram. Jika dicermati, dari pengalaman tersebut, maka dapat disimpulkan apa yang disebut oleh Denny JA tadi terbukti juga di enam daerah pemilihan tersebut. Bahwa faktor figurlah yang sangat dominan. Paket-paket yang dikenal banyak uang dan menggunakan kekuatan uangnya untuk mempengaruhi rakyat, ternyata tidak terpilih. Di Banyuwangi, seorang istri bupati dari kabupaten lain terpilih menjadi bupati hanya dengan dukungan parai-partai kecil dan tidak pakai money politik. Di Sumatra Barat, seorang bupati yang sukses memimpin daerahnya menang dalam pilgub tanpa money politik. Mengalahkan kandidat lain yang diukung partai besar dan bermodal besar. Konon sampai ada yang menyewa helikopter untuk menebar vucer yang tidak lain adalah uang juga.

Makna dari uraian di atas adalah bahwa sesungguhnya rakyat kita masih punya hati nurani. Mereka masih punya harga diri. Kalaupun mereka mengambil uang itu ketika disodorkan, semata-mata karena tidak ingin membuat orang lain tersinggung. Padahal dalam bilik suara, mereka tidak memilih orang yang memberinya uang. Mereka meyakini ceramah seorang guru ngaji di kampungnya, apalah artinya uang lima puluh ribu atau seratus ribu kalau pada akhirnya di kubur kita di’bokbok’ oleh malaikat Mungkar Nakir hanya karena pecahan lima puluhan ribu yang diberikan oleh tim sukses pasangan calon yang bertarung dalam sebuah pilkada...... Naudzubillah min zalik.

Kembali