KIPRAH PEMUDA DALAM MEMIMPIN BANGSA: DARI PERSPEKTIF SEJARAH DAN PROSPEK PILKADA NTB |
| Posted by Administrator (admin) on Apr 23 2008 at 12:31 PM |
| Home >> Press Release |
OLEH: M. FIRMANSYAH, M.Si (Dosen FE UNRAM dan Tim Pakar GGC UNRAM) Dikotomi generasi kepemimpinan nasional beberapa tahun terakhir mencuat dipermukaan dan hangat didiskusikan di ruang publik. Publik mulai pertanyakan efektifitas kepemimpinan golongan tua di segala lini kehidupan masyarakat, bersamaan dengan proses penantian panjang kepemimpinan golongan muda dalam berkiprah. Megawati, Ketua Umum PDI Perjuangan bahkan dalam salah satu pidatonya menantang kaum muda untuk berani berkompetisi dalam pilpres 2009 mendatang. Persoalannya adalah benarkan kepemimpinan generasi tua gagal dan telah usang (out of date), sudahkah ada ruang bagi kaum muda menampakan diri, lantas kenapa proses regenerasi kepemimpinan selama ini terasa mandek? Bila kita feed back menelaah temuan Lembaga Survei Indonesia (LSI) Oktober 2007 lalu, menjelaskan bahwa ada tujuh calon presiden yang mendapat dukungan tertinggi publik Indonesia dalam perhelatan akbar pemilu mendatang, dan semua tokoh tersebut berusia 60 tahun ke atas. Di sana ada Susilo Bambang Yudhoyono (60), Megawati (64), Amien Rais (65), Wiranto (62), Sri Sultan HB X (63), Jusuf Kalla (67) dan Sutyoso (65). Kondisi ini terasa paradoks dengan era kepemimpinan bangsa awal-awal kemerdekaan RI tempoe doeloe, bahkan dalam umur 20-an tahun mereka telah memimpin pergerakan nasional, katakanlah Tan Malaka (PKI) 24 tahun, Soekarno (PNI) 36 tahun, Sahrir ketua pendidikan Nasional Indonesia di umur 22 tahun. Tokoh-tokoh yang mengurusi pra maupun pasca awal kemerdekaan-pun dikuasai kalangan muda produktif dan visioner, misalnya Sultan Syahrir (36), Sultan Hamengkubowono IX (33), Amir Syarifudin (38), Adam Malik (28), dan Angkatan Perang Indonesia dipimpin langsung oleh AH Nasution (27), Djatikusuma (28) dan TB Simatupang (25). Di beberapa negara, generasi muda juga tidak ketinggalan, Lee Kuan Yu Perdana Menteri Singapura (36), Tony Blair Perdana Menteri Inggris (44), Gemal Abdul Naser perdana Menteri Mesir (36), Fidel Castro Pertama kali memimpin Kuba (33), Bill Clinton Presiden Amerika Serikat (33) dan saat ini Barack H Obama menjadi icon muda calon pemimpin Amerika Serikat, Jav Balkenende Memimpin Belanda (46), Rajiv Gandhi memimpin India di usia (40), Benazir Butho memimpin Pakistan (35), mereka ternyata sukses membangun negaranya dengan berbagai karateristik dan corak yang khas. Gubernur NTB Mendatang Penulis dalam mengangkat isu di atas bukan berusaha membangun pemikiran sempit bahwa generasi tua divonis gagal total menakhodai yang dipimpinnya, silahkan pembaca mencerna sendiri apakah era kepemimpinan lama sukses atau tidak beberapa tahun ke belakang. Rakyat tentu cerdas memiliki kepahaman politik menilai dan menentukan hati dan pilihannya ke depan merujuk pengalaman masa lalu. Golongan tua boleh saja menjustifikasi, umur boleh dibilang tua, namun gaya dan corak serta visi dan misi tetap berjiwa muda. Karena yang lebih dibutuhkan adalah gaya kepemimpinan menyegarkan dan keberanian membawa perubahan fundamental bagi kesejahteraan masyarakat. Sebab mudahnya arus informasi dan pengkajian kebijakan sekarang ini, asam garam golongan tua tidak dibutuhkan lagi. Pemilihan gubernur NTB Juli 2008 ini menurut penulis menjadi ajang pembuktian eksistensi golongan tua dan trust lebih untuk golongan muda. Apakah calon-calon dari golongan tua masih eksis diterima publik, atau malahan golongan muda maju menjadi alternatif kepemimpinan baru. Di provinsi ini, kepemimpinan daerah sudah terbagi dalam dua generasi, ada daerah yang dipimpin golongan tua (60 tahun keatas), di kabupaten Bima dan Dompu telah dikomandani oleh kepemimpinan muda (Ferry Zulkarnaen dan Saiful Salman) dan tinggal menunggu apa implikasi riil bagi pembangunan rakyat di daerahnya. Efektifitas kepemimpinan daerah terletak pada kemampuan merangkul stocholder yang ada di daerah, kondisi ini tentu perlu pergaulan yang luas. Bukan pemerintah yang mengambil alih semua pekerjaan yang seharusnya dilakukan publik. Bradshaw (2003) didukung Kuncoro (2004) dan Siregar (2000) mengungkap tipe kepemimpinan yang efektif terletak pada kemampuan mengkordinasikan stockholder, menstimulasi pembangunan manusia daerah dan memfasilitasi peningkatan ekonomi rakyat daerah. Tiga item ini saja perlu pemikiran cerdas dan inovatif, sehingga butuh kesegeran dan peremajaan cara berpikir pula di dalamnya. Demikian juga upaya memangkas tumor pembangunan di segala dimensi di daerah, perlu langkah ekstrim dan segera (short term), tanpa perlu harus banyak pertimbangan, apalagi di luar konteks pemerintahan, lebih-lebih pertimbangan politis. Pemuda Kapan Bangkit? Memang sulit membandingkan kedewasaan berpikir kalangan muda era tahun 40-an dengan kaum muda jaman sekarang. Secara kondisional mereka berbeda, dan keadaan hiduplah yang membedakannya. Jaman dulu kesulitan dan kerasnya hidup mendewasakan pemikiran kaula muda, kini kesenangan hidup terus memanjakan kalangan muda kita. Tidak jarang umur produktif 20-30 tahun dihabiskan dengan pekerjaan yang sia-sia dan hura-hura, misalnya tidak sedikit kita jumpai ditempat-tempat play station dipadati oleh anak-anak pelajar bahkan anak kuliahan, mereka mengahabiskan waktu sia-sia tanpa hasil. Belajar yang tidak sungguh-sungguh juga menjadi keseharian banyak anak muda jaman sekarang. Bagaimana bisa memimpin orang lain, jika memimpin diri sendiri saja belum sanggup dilakukan? Namun, ditengah keterpurukan kaula muda produktif bangsa, muncul beberapa pemuda cemerlang yang mencoba membuktikan diri bahwa mereka mampu bersaing di segala lini kehidupan. Di perguruan tinggi misalnya, rektor Universitas Paramadina, Universitas Indonesia dan UNPAD dipegang kalangan muda produktif, beberapa kepala daerah-pun sudah muncul kepala-kepala daerah muda, lebih-lebih anggota dewan (DPRD) tidak sedikit dari kalangan muda. Mungkihkah ini pertanda era kebangkitan kaum muda sudah menggema di mana-mana? Dalam konteks ke-NTB-an perlu pembuktian lebih jauh kompetensi tua dan muda ini. Dalam mempertahankan eksistensinya mampukan kalangan tua, kalau dianggap perlu berjiwa muda memimpin NTB? Setidaknya dalam efektifitas dan produktifitas peremajaan perencanaan dan pengelolaan daerah. Atau mampukah golongan muda mengambil alih hati mayoritas rakyat, menawarkan peremajaan konsep pembangunan sekaligus pelakunya, dan menggunaakan secara baik kepercayaan tersebut. Bukan Ajang Try and Error Kalangan intelektual daerah ini harus pro aktif membangun kesadaran politik (political awareness) masyarakat untuk segera menentukan pilihan yang benar. Karena memilih kepala daerah bukanlah ajang coba-coba. Daerah ini babak belur bila ditilik dari berbagai indikator (pendidikan, kesehatan dan pendapatan) sehingga rakyat harus benar-benar yakin akan komitmen pilihannya ke depan, meyakini bahwa yang dipilih segera memperbaiki segala kelemahan tersebut dalam periode kepemimpinannya. Mengakomodir kebutuhan ini, lembaga-lembaga independent (LSM) serta perguruan tinggi seyogyanya segera menjembatani keingintahuan publik akan konsep pembangunan yang coba ditawarkan kandidat. Secara sosial kemasyarakatan teman-teman LSM punya tanggung jawab moral membuka wacana dialog sehat antara calon dengan publik dengan tanpa rasa jemu dan bosan-bosannya. Secara intelektualitas dibungkus metodologis pembangunan ideal, universitas punya tanggung jawab moral menguji secara konseptual kemampuan calon membangun NTB ini. Media masa juga punya peran yang strategis mengkomunikasikan, serta membagun knowladge spillovers berbagai konsep dan metodologis tersebut, dan mewacanakan-nya secara sehat dan proporsional ditengah-tengah masyarakat. Dengan demikian, tidak ada alasan sang kandidat untuk tidak hadir dalam setiap dialog atau debat terbuka, adu visi dan misi dan lain-lainnya. Karena media masa menjadi hakim efektif, mewartakan kehadiran dan ketidakhadiran tersebut sebagai sebuah headline yang akan mengangkat sekaligus menjatuhkan pamor sang calon. Dewasa ini, cukup disayangkan kalau perguruan tinggi resisten terhadap perpolitikan daerah, dan menganggap politik bukan bagian dari kehidupan mereka. Sebagai lembaga intelektual (central of excellent) yang berlabel universitas (universal=luas) sebaiknya universitas punya tanggung jawab mengantar kepemimpinan daerah ke rel (jalan) yang benar dan tepat dengan politik ilmu, setidak-tidaknya berupaya membangun jiwa kritis kalau salah, dan sinergikan kalau benar. Perguruan tinggi harus memfasilitasi dialog sehat dan bermanfaat, membangun kerja sama dengan LSM, media-media masa dalam upaya meng-create berbagai kebijakan efektif pembangunan dan mengawal pemerintahan daerah yang mensejahterakan. Karena banyak sektor kehidupan yang perguruan tinggi intens melakukan Research and Development (R&D) di dalamnya, ekonomi, pertanian, peternakan, hukum, teknik dan lain-lain. Perguruan tinggi dituntut punya politik ilmu, sesuai bidang yang ia konsen pelajari. Politik ilmu dalam arti mengafiliasikan ilmu dengan kondisi riel di masyarakat di daerah. Alangkah prematurnya pembangunan bila secara intelektual tidak diawasi dengan baik dan masing-masing resource berjalan secara parsial. Akademisi muda menjadi garda terdepan merubah paradigma pemikiran sempit akan pemahaman politik tersebut, namun bukan berarti berpolitik praktis, ia hanya netral mengawasi. Mengakhiri tulisan ini, penulis patut syukuri akan kiprah kaum muda yang semakin melebar saja di daerah ini. Segala sisi kalangan muda semakin menjamur memperlihatkan karya penting, teman-teman LSM, Mahasiswa media masa, penulis-penulis muda produktif, dan bahkan dosen-dosen muda juga semakin unjuk gigi mengawasi pembangunan dan bahkan menjadi pelaku pembangunan itu sendiri. Tidak ada alasan kalau dikatakan kaum muda tidak punya ruang untuk itu. Sebagai bukti, sepulang menimba ilmu di daerah orang, penulis merasa disambut hangat oleh beberapa teman LSM, beberapa media dan kelompok-kelompok penulis muda berbakat di daerah ini untuk sama-sama merapatkan barisan membangun daerah dengan konsep ilmu yang masing-masing dimiliki. Ini merupakan proses pendewasaan yang baik bagi kalangan muda yang baru mencoba menunjukan jati dirinya. Regenerasi kepemimpinan muda memang tidak bisa dengan paksaan, sudah bukan jamannya lagi. Semua perlu proses, dan pembuktian diri adalah menjadi kata kunci melewati proses tersebut. Karena masyarakatlah yang akhirnya menentukan siapa sesungguhnya yang diperlukan dan yang pantas memimpin. Pembuktian diri harus dibangun dengan rekonsiliasi intelektual dan komunikasi ilmiah antara resources dengan publik secara santun dan cerdas, dengan melibatkan banyak kalangan. Yang jelas daerah ini butuh pemikiran-pemikiran segar dan konsep-konsep yang segar pula, serta visioner membangun masyarakat tahun-tahun mendatang. Kita meski lapang dada membuat kesimpulan jauh-jauh hari sebelum proses pencoblosan dimulai, bahwa yang terpilih adalah the best choice dari rakyat, entah dia golongan tua atau-pun kaula muda, kita harus legowo menerima dan mendukungnya demi kemaslahatan masyarakat NTB kita kedepan-nya.
