MEMBANGUN KARAKTER DAN BUDAYA BARU MASYARAKAT LOMBOK TIMUR: Catatan Lepas 100 tahun Kebangkitan Nasional |
| Posted by admin2 (admin2) on Jun 21 2008 at 10:09 AM |
| Home >> Press Release |
Oleh Rosiady Sayuti
Membangun nilai-nilai budaya, membangun karakter suatu masyarakat jauh lebih sulit dari pada membangun infrastruktur, membangun fisik, seperti jalan, jembatan, pelabuhan, perumahan dan lain-lain. Sulitnya ini disebabkan beberapa faktor. Faktor utamanya adalah arena sifatnya yang intangible. Sifatnya yang tidak kasat mata. Sifatnya yang tidak bisa diukur dengan segera. Sifatnya yang abstrak. Sementara sistem anggaran atau keuangan negara menuntut adanya sesuatu yang jelas tolok ukurnya, jelas hitungan-hitungannya. Sulit yang berikutnya adalah karena membangun karakter atau nilai-nilai budaya ini memang membutuhkan persyaratan, kondisi, dan strategi yang juga tidak semudah strategi untuk membangun fisik.
Persoalan membangun karakter atau budaya ini menjadi terkendala lagi dengan sistem pemerintahan kita, dimana kepala daerah dipilih langsung oleh rakyat dalam periode lima tahunan. Tentu seseorang tidak ingin masa jabatannya yang lima tahun ini dinilai tidak menghasilkan sesuatu yang dapat dilihat dengan mata kepala oleh orang banyak. Seorang kepala daerah kemudian berlomba-lomba untuk ’berprestasi’ yang menjadi investasinya dalam pemilihan periode berikutnya. Konon di Kalimantan, setiap bupati walikota, karena begitu banyak uangnya, berlomba-lomba membuat airport. Padahal kalau ditempuh lewat darat, antara airport yang satu dengan yang lain jaraknya hanya satu atau dua jam saja. Celakanya, koq pemerintah pusat (cq. departemen perhubungan) mengijinkan? Belum lagi kalau kita mengambil contoh ’perlombaan’ antara seorang bupati/walikota dengan gubernur.
Persoalan lain dalam membangun karakter atau budaya ni adalah terkait dengan adanya dua pendekatan yang berbeda. Pendekatan pertama adalah membangun budaya sesuai dengan apa yang telah terjadi atau pernah ada di masa lalu. Ada nilai-nilai luhur yang dipercaya dapat dihidupkan kembali di masa kini. Pendekatan kedua adalah yang menggunakan paradigma modernisasi, yang meyakini bahwa apa yang pernah terjadi dimasa lalu tidak mungkin terulang kembali. Jarum jam tidak akan bisa diputar. Oleh karena itu, sebuah masyarakat akan tumbuh dengan budaya baru pada setiap kurun waktu tertentu. Apa yang diyakini sebagai suatu kebenaran di masa lalu, belum tentu benar pada masa kini. Ada proses transformasi nilai dan kepercayaan yang berjalan dinamis. Itulah sesunggunya sifat dasar manusia, sehingga Tuhan mengutus para nabi untuk memberikan pegangan dan tuntunan sehingga ’dinamika’ kehidupan manusia dalam membangun suatu budaya tidak bertentangan dengan ajaran-ajaran agama yang notabene demi kemaslahatan manusia itu sendiri.
Ketika kemudian kita mempertentangkan kedua pendekatan di atas, sama halnya dengan kita mendiskuiskna mana duluan lahir antara telur dan anak ayam. Tidak pernah akan selesai. Oleh karena itu, maka peran pemimpin dan tokoh masyarakatlah yang kemudian mewarnai implementasi kedua pendekatan tersebut. Saya sendiri termasuk penganut mazhab yang kedua, atau katakanlah kombinasi antara keduanya. Ketika melaksanakan proses pembangunan budaya dengan prinsip-prinsip modernisasi, mungkin tidak ada salahnya untuk mengidentifikasi nilai-nilai lama yang ada atau pernah ada dalam suatu masyarakat yang mungkin saja kemudian dapat menjadi inspirasi untuk kita membangun budaya ke depan. Yang tidak boleh terjadi adalah kalau nilai-nilai lama tersebut menjadi penghalang kita untuk maju ke depan.
Salah satu contoh yang ingin saya uraikan di sini adalah bagaimana membangun jiwa kewirausahaan masyarakat.
Saya terkesan dengan pernyataan Prof Yayah Koswara, Direktur P3M pada Ditjen Dikti di era 90an, dimana beliau sangat getol membangun jiwa kewirausahaan mahasiswa. Ketika seorang mahasiswa mendebat beliau dengan mengatakan kalau mahasiswa tersebut tidak punya bakat dan keturunan untuk berdagang, Prof Yayah mengatakan, ”justru itulah saya ingin mengajarkan kalian bagaimana menjadi seorang pedagang yang baik, menjadi seorang wirausahawan yang baik, sehingga nanti keturunan kalian menjadi keturunan pedagang. Jangan ingin menjadi PNS semua.” Maknanya adalah karakter masyarakat itu bisa diciptakan. Menjadi pedagang itu, atau profesi apapun, sesungguhnya tidak terlalu tergantung pada bakat dan keturunan. Konon kesuksesan seseorang itu sangat tergantung dari usahanya sendiri, termasuk pendidikan yang dilalui, usaha yang dikerjakan, lingkungan, dan sedikit sekali faktor bakat atau keturunan.
Berdasarkan pemikiran di atas, maka seandainya saya menjadi Bupati Lombok Timur, saya akan fokus dalam lima tahun jabatan saya untuk membangun karakter masyarakat Lombok Timur. Saya akan meletakkan fondasi budaya sehingga masyarakat nantinya memiliki etos kerja yang tinggi, kejujuran yang tinggi, berani bersaing dan tampil penuh percaya diri dalam pergaulan dunia. Seperti kata Deddy Mizwar dalam menyambut 100 tahun kebangkitan nasional:
Bangkit itu susah: susah melihat orang susah, senang melihat orang senang; Bangkit itu malu: malu menjadi benalu, yang kerjanya minta melulu; Bangkit itu takut: takut korupsi, takut makan yang bukan haknya; Bangkit itu mencuri: mencuri perhatian dunia dengan prestasi; Bangkit itu marah: marah bila martabat bangsa dilecehkan; Bangkit itu tidak ada: tidak ada kata menyerah, tidak ada kata putus asa; Bangkit itu aku: aku untuk Indonesiaku
Demikianlah pokok-pokok fikiran sederhana yang kiranya dapat menjadi perenungan para pemimpin daerah ini. Menyadari kenyataan bahwa rakyat kita masih miskin, kurang terpelajar, cenderung senang berkelahi, mudah tersulut provokasi, adalah ciri-ciri masyarakat yang belum maju. Karena itu adalah tugas pemimpin untuk memimpin mereka menuju keadaan yang lebih maju, yang lebih baik, insya Allah.
Hidup Lombok Timur. Amanahlah pemimpinnya. Sejahteralah Rakyatnya.
Mataram, 21 Juni 2008
Kembali
